Ruang Cianjur — Fenomena upwelling kembali menghantam kolam budidaya ikan di Jangari, Kabupaten Cianjur. Ribuan ikan mas dan bawal mati akibat perubahan kondisi perairan yang terjadi saat musim kemarau.
Acep (47), salah seorang petani, mengaku hampir seluruh ikan ukuran konsumsi miliknya mati.
“Hampir semua ikan ukuran konsumsi mati. Dari pinggir kolam semuanya mabok. Yang tersisa hanya bibit kecil,” ujarnya.
Upwelling terjadi ketika perubahan angin dan kondisi perairan menyebabkan air dari lapisan bawah naik ke permukaan. Kondisi tersebut dapat memicu perubahan suhu serta kadar oksigen dan membuat ikan stres hingga mati.
Bagi petani Jangari, fenomena ini bukan kejadian baru. Kerugian yang ditanggung pun tidak sedikit. Petani kecil disebut bisa kehilangan sekitar Rp10 juta, sedangkan petani dengan skala usaha lebih besar berpotensi mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Kondisi semakin berat karena harga pakan disebut mencapai Rp12.000 per kilogram, sementara harga jual ikan sekitar Rp23.000 per kilogram.
Warga meminta pemerintah tidak hanya hadir setelah ikan mati, tetapi memberikan langkah antisipasi sebelum upwelling terjadi.
“Kami butuh penyuluhan, peringatan dini. Bulan ini risiko tinggi, tunda tebar dulu. Bukan datang memberi sedikit bantuan setelah kami rugi besar,” kata Ketua RT setempat.
Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Cianjur, Erwin Syafrudin, mengatakan fenomena tersebut merupakan kejadian yang dapat diprediksi setiap tahun, terutama saat perubahan musim dan pengaruh El Niño.
Menurutnya, pemerintah telah mengeluarkan surat edaran dan melakukan sosialisasi terkait pengaturan pola tebar ikan.
“Seharusnya petani sudah menyadari perubahan musim. Kami telah mengeluarkan surat edaran dan sosialisasi pengaturan pola tebar,” ujar Erwin, Kamis (10/9).
Namun, Erwin mengakui keterbatasan petugas di lapangan membuat sosialisasi belum menjangkau seluruh pembudidaya.
Untuk membantu petani terdampak, pemerintah menyiapkan bantuan bibit ikan. Namun jumlahnya terbatas dan bantuan tersebut belum mencakup pakan maupun kompensasi kerugian.
“Ketersediaan bibit terbatas, jadi yang bisa dibantu mungkin hanya sedikit,” kata Erwin.
Bagi petani Jangari, persoalannya bukan sekadar ikan yang mati, tetapi bagaimana mereka dapat bertahan menghadapi ancaman upwelling yang terus berulang setiap tahun.
Jika fenomena tersebut sudah dapat diprediksi, warga berharap pemerintah memperkuat sistem peringatan dini, pendampingan, serta dukungan bagi petani sebelum kerugian kembali terjadi.(HDN)






